![]() |
Bupati Blora Arief Rohman meraih gelar doktor usai menjalani sidang terbuka di Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Semarang, Senin (26/8/2024). (DOK. Humas Pemkab Blora) |
KOMPAS.com - Bupati Blora Arief Rohman meraih gelar doktor dengan in indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,7 atau berpredikat cumlaude. Gelar itu dia dapatkan setelah menjalani sidang terbuka di Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Semarang, Senin (26/8/2024).
Kini, pria asli Blora itu memiliki gelar Dr Arief Rohman, S.IP, M.Si. Pencapaian ini menandai prestasi akademik Arief Rohman yang selama ini dikenal berkomitmen memajukan sektor pendidikan bagi aparatur desa di Kabupaten Blora.
"Predikat cumlaude ini adalah hasil dari kerja keras dan dukungan dari banyak pihak. Saya berkomitmen untuk mengimplementasikan model yang saya kembangkan dalam disertasi ini,” ujarnya dalam siaran persnya. Selasa (27/8/2024).
Arief mengatakan, disertasi itu akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas aparatur desa di Blora sehingga mereka dapat lebih efektif dalam melayani masyarakat.
Dalam disertasinya, Arief mengembangkan model inovatif untuk meningkatkan kompetensi aparatur desa dengan pendekatan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). RPL adalah metode penilaian pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki aparatur sebelum mereka mengikuti pelatihan formal.
Dia menyebutkan, RPL penting baginya sebagai seorang bupati yang mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan bagi aparatur desa hingga pegiat desa di Kabupaten Blora Arief berharap, gelar doktor itu dapat memperkuat kebijakan dan program-program pendidikan yang telah ia jalankan di Kabupaten Blora.
Dia pun bersyukur atas capaian yang telah diraih dan mengapresiasi dukungan banyak pihak, termasuk para dosen Pascasarjana Unnes maupun keluarga.
"Terima kasih juga untuk keluarga yang selalu mendukung proses belajar kami di tengah padatnya kegiatan agenda kerja, terutama orangtua, para adik, istri, anak anak, para sahabat, teman, ajudan, tim pengawal, driver, humas, dan lainnya," ungkapnya.
Dia berharap, ilmu yang dia peroleh bermanfaat untuk melanjutkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) Kabupaten Blora. Arief juga ingin program RPL Desa tidak berhenti setelah dia meraih gelar doktor. Sebaliknya, dia ingin program ini dilanjutkan karena mempunyai banyak manfaat untuk peningkatan SDM aparatur desa.
Dia mengatakan, program RPL tahap awal dilakukan kepada sekitar 300 mahasiswa. Ke depan, dia menargetkan melakukan RPL kepada 1000 aparatur desa yang bekerja sama dengan Unnes.
“Bahkan tidak hanya S1 saja, bisa merambah ke S2. Semua itu agar kualitas SDM aparatur desa di Kabupaten Blora semakin meningkat dan berujung pada peningkatan pembangunan desa,” katanya.
Arief mengatakan, jika aparatur desa berpendidikan tinggi, mereka akan dapat berinovasi untuk menjalankan pembangunan meskipun anggaran desanya kecil.
“Mohon doanya, semoga SDM aparatur desa di Kabupaten Blora terus bisa kita tingkatkan sehingga kualitas pembangunan desa juga semakin baik," harapnya.
Diuji dan diapresiasi Menteri Desa PDTT Dalam ujian terbuka tersebut, Arief diuji Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Menteri Desa PDTT) Abdul Halim Iskandar. Disertasi berjudul "Pengembangan Model Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Aparatur Desa Berbasis Rekognisi Pembelajaran Lampau" itu mendapatkan apresiasi tinggi dari para penguji.
Sebab, karya tulis Arief dianggap mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kompetensi sumber daya aparatur desa.
Mendesa PDTT yang akrab disapa Gus Halim itu pun mengaku bangga dan mengapresiasi capaian Arief. Dia juga mengaku sudah cukup lama mengenal Arief sejak masih santri hingga kini menjadi bupati.
"Komitmen Pak Arief untuk memajukan pembangunan SDM aparatur desa memang tinggi. Selain menjadi pengambil kebijakan pelaksanaan RPL yang pertama di Jawa Tengah, rupanya juga diteliti dan dievaluasi dalam program kuliah S3-nya,” katanya.
Gus Halim mengapresiasi penelitian itu pada akhirnya dapat membuahkan studi yang berujung pada raihan gelar doktor.
“Ini luar biasa. Selamat untuk Pak Arief. Ini merupakan prestasi tersendiri bisa meraih gelar akademik tertinggi. Semoga kebijakannya bisa ditularkan ke kabupaten lainnya di Jawa Tengah," ucapnya.
Sementra itu, ketua tim penguji disertasi Wasino mengaku senang dan kagum atas kerja keras Arief yang berhasil menyelesaikan studinya di tengah padatnya agenda kerja sebagai bupati.
"Selamat Pak Bupati atas promosi doktor-nya, bahkan saat sidang terbuka terlihat lebih lepas dan santai dalam menyampaikan jawaban-jawaban pertanyaan,” katanya.
Wasino mengatakan, Arief sudah menguasai materi jika dibandingkan saat sidang tertutup beberapa waktu lalu.
“Sudah sangat menguasai karena ini tidak hanya teori, tetapi sudah dipraktikkan dan diteliti hasilnya sebagai pengambil kebijakan," ujarnya.
Anggota tim penguji lain disertasi Arief, yakni Mendesa PDTT Abdul Halim Iskandar sebagai penguji I, Nanik Wijayanti sebagai penguji II, Suwito Eko Purnomo sebagai penguji III, Muhammad Khafid sebagai penguji IV, Fathur Rokhman sebagai penguji V, dan Zaenuri sebagai penguji VI.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bupati Blora Raih Gelar Doktor dengan Predikat Cumlaude, Diapresiasi Menteri Desa PDTT", Klik untuk baca: https://regional.kompas.com/read/2024/08/27/200055678/bupati-blora-raih-gelar-doktor-dengan-predikat-cumlaude-diapresiasi-menteri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar